Agaknya dalam penelusuran sejarah (yang Euro-centric), Thales disebutkan sebagai orang yang pertama kali berfilsafat dan Socrates dianggap sebagai orang yang paling pertama menurunkan filsafat dari langit ke bumi (man anzala a-falaasifah min as-samaa’ ila al-ardh) sebab ia adalah orang yang membantah sofismeyang menyatakan bahwa kebenaran tidak mungkin bisa diketahui. Pemikiran yang maju melampaui zamannya dimulai dari sana. Serta kemajuan peradaban hari ini mengambil banyak sumbangsih pemikiran filsafat Yunani Kuno.

Akan tetapi, apakah serta merta pemikiran itu dimulai sebagai sebuah loncatan sejarah yang hadir begitu saja ?. Mulyadhi sebagaimana diungkapkan Budi handrianto bahwa sebenarnya filsuf Yunani Kuno mengolah informasi ilmiah-filosofis yang mereka himpun dari wilayah-wilayah sekitarnya-khususnya Mesir dan Suria- mereka mengadakan pewargaan (naturalisasi) terhadap ilmu-ilmu yang mereka perolah di sana dengan corak pemikiran yunani pada saat itu yang bersifat rasionalistis. Abu Hasan al-‘Amiri, seorang Filsuf Muslim abad ke-10 menyatakan bahwa Phytagoras belajar geometri dan matematika dari orang-orang Mesir, belajar metafisika (al-‘ilm al-ilaahi) dari sahabat-sahabat Nabi Sulaiman (Ashaab Sulaiman). Demikian juga Empedokles, menurutnya belajar filsafat dalam waktu cukup lama dari Luqman al-Hakim[1], seorang Filsuf masa Nabi Daud. Namun ketika kembali ke negerinya, Empedokles dikatakan mengemban ilmu yang diperolehnya itu sesuai dengan pemikirannya yang khas.[2]

Dengan demikian, tradisi ilmiah sudah berlangsung sejak masa Nabi-Nabi terdahulu. Kapal Nabi Nuh, dan Piramida Mesir bisa menjadi satu contoh bagaimana kemajuan peradaban di zaman tersebut sudah mencapai puncaknya. Kapal Nabi Nuh secara logika tidak mungkin bisa dibuat di zaman dahulu dengan ukuran dan proses pembuatan di puncak gunung. Begitu pula, piramida mesir yang sampai hari ini banyak dikaji tentang proses pembuatan batu serta denah penyusunan makam raja-raja tersebut.
Profesor George G. M. james mempelopori usaha menyingkap kepincangan kerangka Porso-Eropa dengan menerbitkan bukunya Stolen Legacy: Greek Philosphy is Stolen Egyptian Philosophy tahun 1954 berpedoman pada beberapa sumber Yunani klasik seperti Phaedo dan Timaeus karya Plato, Life of Eminent Philospher karya Diogenes Laeritus, dan lain-lain. Ia meringkas semua doktrin asli yang terdapat dalam filsafat Yunani dan selanjutnya membuktikan doktrin-doktrin tersebut bisa diketahui asal-usulnya dalam sistem kepercayaan terpahat di batu prasasti yang disebut sebagai Teologi Memphis lebih-kurang 4.000 SM yaitu pada zaman ketika dinasti-dinasti pertama Mesir mendirikan ibukota pertama mereka di Memphis (kini berdekatan Kairo). Sistem kepercayaan Mesir Kuno ini menyebutkan diantaranya bahwa: air sumber segala benda, penciptaan alam direncanakan dalam ‘akal’ tuhan besar Ptah dan dilahirkan melalui ‘titahnya’. Alam semesta dipandu oleh prinsip pertentangan (doctrine of opposites), unsur-unsur dasar alam semesta ialah api, air, tanah dan udara. James mengatakan, jelas terdapat keserasian paham (conceptual affinity) yang erat antara sistem kepercayaan teologi Memphis dengan doktrin air Thales, udara Anaximenes, api Phytagoras, Heraclitus, Democritus dan Plato. Kaitan erat ini juga ditemua dalam doktrin pertentangan yang dikembangkan oleh Phytagoras, paham nous(akal) dan logos (titah), dan unsur-unsur api, air, tanah, dan udara dalam filsafat tabi’i Yunani.[3]
Penyerapan ciri-ciri kebudayaan Mesir-Babylon ke dalam Pemikiran Yunani sedikit banyak membina pemikiran Yunani mejadi lebih rasional, lalu ketika sampai pada zaman Thales, pemikiran mereka menjadi cukup ‘matang’ untuk bisa mengakui dan menghargai nilai pencapaian pemikiran rasional dalam peradaban-peradaban kuno yang bertetangga yang jauh lebih maju dalam pemikiran filsafat dan sains, termasuk juga pencapaian teknologi. Adi Setia kemudian menyimpulkan dari dengan ciri-ciri akan kemunculan sains/filsafat Yunani secara umum adalah:
1.  Pengembaraan orang-orang yunani ke Mesir, Babylonia dan Asia kecil untuk tujuan menuntut ilmu
2.   Penempatan orang-orang Yunani di Pesisir pantai Syria dan Mesir, seperti penempatan orang-orang Ionia (Anatolia) dan Naukritas (Mesir)
3.      Pertukaran diplomat antara Yunani dengan Mesir, Funesia, dan Babylon
4.    Pembelajaran bahwa Mesir dan Semit oleh para pelajar yang datang dari Yunani, seperti yang terjadi dalam hal Phytagoras, dan wujudnya budaya dwi atau aneka bahwa di daerah perbatan antara peradaban Yunani dan sejumlah peradaban yang bertetangga dengannya.
5.   Penaklukan Mesir oleh Iskandar Agung dan pendirian kota Iskandariyah sebagai Pusat ilmu dan Penyelidikan
6.   Pengambil-alihan karya-karya filsafat dan sains yang terpelihara dalam perpustakaan istana dan kuil di Mesir
7.      Penugasan para sarjana-paderi Mesir dan Babylonia seperti Manetho dan Berosss sebagai guru, penterjemah, penyalin dan penulis untuk menyegerakan pemindahan khazanah ilmu Mesir dan Babylonia ke dalam bahasa Yunani.[4]
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa, Peradaban Yunani –sebenarnya- memperoleh pemikiran-pemikiran dari daerah sekitarnya. Dan sepertinya memang perlu dikritisi tentang penulisan sejarah yang cenderung Euro-Centric. Hal ini justru akan memperoleh justifikasi psikologis bahwa, memang Peradaban Barat yang embrio sistem dan tradisi keilmuwan mereka lahir dari ‘loncatan sejarah’ yang mereka buat sendiri. Padahal, loncatan-loncatan seperti pencapaian pemikiran rasional filsafat Yunani banyak dipengaruhi dari daerah tetangganya.
Dari Mesopotamia ke Persia
            Sekarang, kita telah paham bahwa, puncak peradaban dibangun dengan tonggak tradisi ilmu yang tinggi. Dan dalam setiap peradaban terjadi pergiliran. Peradaban yang maju akhirnya runtuh akibat kekuasaan serta dominasi peradaban lain. Ilmu itu kemudian diserap, diadopsi dan diadaptasi hingga masuk menjadi elemen dasar peradaban yang melakukan penaklukan.
Tamim menjelaskan keunikan geografis Mesopotamia. Selain diapit dua sungai yang menjadi sumber penggerak pertanian masyarakatnya, dataran Mesopotamia sangat memudahkan untuk didekati dari segala arah. Geografinya tidak memberikan pertahanan alami kepada orang yang hidup di sana. Berbeda dengan sungai Nil yang diapit rawa pada sisi timurnya, dan oleh tebing-tebing terjal di ujung atasnya.[5]

Mesopotamia adalah peradaban berbasis pertanian yang ditempati menetap oleh orang-orang Sumeria. Menurut Tamim, suku-suku Nomaden pada gilirannya muncul dan menaklukkan para pemimpin di daerah ini. Dan terjadi asimilasi dan akulturasi. Suku Nomaden yang keras tadi akan melebur dalam kebudayaan masyarakat permanen dan akhirnya Suku Nomaden yang lain datang dan menaklukkan mereka kembali. Siklusnya menurut Ibnu Khaldun: Penaklukan, Konsolidasi, Ekspansi, Degenerasi. Dari Peradaban ini telah ditemukan aksara, roda, gerobak, peroda, tembikar dan sistem bilangan awal. Lalu suku Akkadian menaklukkan Sumeria. Lalu setelah itu Suku Guttian, Kassit, Hurrian, dan Amori secara bergantian menduduki peradaban ini. Berikutnya Suku Amori dituntukkan oleh bangsa Kasdim yang kemudian membangun kembali kota Babel (sebuah kota yang sangat maju dalam prestasi astronomi, kedokteran, dan matematika). Merekalah yang pertama kali menggunakan sistem bilaganan dasar 12 yang sampai hari ini pengukuran dan pembagian waktu dibagi atas dua belas (bulan, jam, dan detik). Dan Kasdim pula-lah yang membangun Taman Gantung Babel.[6]
Tahun 550 M, Persia mengambil alih tempat ini, banyak konsolidasi yang dilakukan. Setiap daerah, penaklukan sebelumnya telah menarik berbagai suku lokal dan kota-kota ke dalam sistem tunggall yang diperintah oleh orang seorang raja dan pusat ibukota, seperti Elam, ur, Niniwe, atau babel. Persia melakukan penerjemahan yang memungkinkan Kaisar untuk menyiarkan deskripsi tertulis tentang kemegahan dan kebesaran mereka dalam berbagai bahasa.[7]
Mehdi Nakosten, menyebutkan bahwa Persia telah memperoleh kekayaan ilmu pengetahuan dari Babylonia dan India, dan telah membuat kemajuan besar di bidang matematika dan musik. Perpustakaan-perpustakaan di tempat peribadatan Zoroaster memiliki beberapa buku ilmiah dan buku tentang etika yang ditulis dalam bahasa Pahlavi (Persia Tengah), beberapa kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab.[8] 

Universalisme politis dan budaya kemaharajaan Persia mempunyai pasangannya dalam kemunculan suatu agama yang lebih tinggi, Zoroastrianisme, yang memuat baik unsur-unsur monoteis maupun dualistis dan menekankan etika. Zoroaster, pendirinya mengajarkan tentang kepercayaan kepada Ahura Mazda, Tuan Bijaksana – Dewa Terang, Keadilan, Kebijaksanaan, Kebaikan, dan Kebakaan. Persia menyatukan bangsa-bangsa di Timur Dekat menjadi satu negara-dunia, yang dimpimpin oleh seorang raja yang ditetapkan secara dewata.[9]
Ketika tradisi pendidikan Yunani telah meredup di Eropa pada awal-awal abad Kristen, ketika Akademi Athena ditutup oleh Kaisar Justinianus pada tahun 529, dan ketika orang-orang Nestorian diusir dari kota-kota dan akademi-akademi yang berada di bawah kekuasaan Kristen Ortodoks, maka orang-orang Sassanian di Persia, di bawah raja Anushirwan yang adil, para cendekiawan Syria, Alexandria dan yahudi memperoleh perlindungan. Di sana mereka melestarikan tradisi ilmu pengetahuan Helenistik[10], Alexandrian, Syrian dan Hindu yang telah tersebar ke pusat-pusat ilmu pengetahuan Sassanian di kekaisaran Persia. Di antara pusat-pusat Ilmu pengetahuan Persia ini adalah Salonika, Ctesiphon[11], Nishapur, dan terutama adalah Jundi-Shapur.
Dari Timur Dekat ke Yunani
            Marvin Perry menyebutkan bahwa Bangsa Ibrani dan Yunani sama-sama menyerap prestasi peradaban-peradaban Timur Dekat, tetapi mereka juga mengembangkan sudut-sudut pandang dan gaya-gaya pemikiran mereka yang khas, yang memisahkan mereka dari orang Mesopotamia dan Mesir.[12]
   Manusia Timur Dekat terlibat dalam bentuk-bentuk pemikiran dan perilaku rasional. Sudah pasti mereka menggunakan nalar di dalam membangun pekerjaan-pekerjaan irigasi, kalender dan pekerjaan matematis lain. Akan tetapi, karena pemikiran rasional atau logis tetap berada di bawah orientasi mitis-religius, makan mereka tidak sampai pada metode penyelidikan yang secara konsisten dan sadar-diri rasional terhadap alam jasmaniah dan kebudayaan manusia. Mereka tidak membentuk suatu badan filosofis dan ide-ide iliah yang secara logis dikonstruksikan, didisikusikan, dan diperdebatkan. Peradaban Timur dekat mencapai level pertama dalam perkembangan ilmu mengamati alam, merekam data, dan memperbaiki teknologi di bidang pertambangan, metalurgi dan arsitektur. Tetapi peradaban ini tidak beranjak dari level pemikiran filosofis dan ilmiah yang sadar diri. Yakni mendeduksi secara logis abstraksi, hipotesis, dan generalisasi.[13]


Orang-orang Sumeria dan Mesir memperagakan kreativitas dan kecerdasan yang hebat. Mereka membangun irigasi dan kota-kota, mengorganisasi pemerintahan, memetakan perjalanan benda-benda langit, melaksanakan kegiatan-kegiatan matematis, membangun monumen-monumen berskala besar, terlibat dalam perdagangan internasional, membangun birokrasi dan sekolah-sekolah. Setelah ditaklukkan oleh bangsa Persia, kemajuan itu diserap ke dalam kebudayaan Persia. Namun, dengan latar belakang kepercayaan yang berbeda, Raja Persia memberlakukan penghargaan terhadap tradisi-tradisi lokal, khususnya dalam soal agama, selama rakyat taklukan membayar pajak dan mengabdi kepada kerajaan dan mencegah gerakan subversif[14]. Bukan urusan yang mudah, dengan kekuasaan Persia yang membentang ke Barat hingga Asia Kecil, selatan Sungai Nil, dan ke Timur melalui dataran tinggi Iran dan Afghanistan hingga Sungai Indus.[15]
Unsur-unsur peradaban Timur Dekat yang pindah ke Barat seperti kendaraan beroda, bajak dan abjak fonetik. Di dunia kedokteran, Orang Mesir menyumbang pengetahuan nilai tentang obat-obat tertentu, seperti minyak jarak; mereka juga mengetahui bagaimana menggunakan belat dan Perban. Pembagian inovatif 3600kepada satu lingkaran dan 60 menit untuk satu jam berasal dari Mesopotamia, Geometri Mesir dan Astronomi Babylonia digunakan oleh orang Yunani dan menjadi bagian dari pengetahuan Barat.[16] (Bersambung)



[1] Salah satu definisi FIlsafat adalah Hikmah, sebidang makna dengan Hakim. Dengan demikian Luqman diberi gelar sebagai ahli hikmah atau ahli filsafat.
[2] Budi Handrianto, Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam Adian Husaini, et. all. FIlsafat Ilmu, Jakarta: GIP, 2013, hlm. 242-243
[3] Penjelasan lebih komprehensif dapat dilihat di: Adi Setia, Melacak Ulang Asal-Usul Filsafat dan Sains Yunani Kuno, Jurnal Islamia, Jakarta (Vol. III No. 1, 2006), hlm. 108
[4] Adi Setia, Melacak Ulang Asal-Usul Filsafat dan Sains Yunani Kuno, hlm. 114
[5] Lihat Tamim Anshary, Dari Puncak Baghdad…, hlm. 34
[6] Lihat Tamim Anshary, Dari Puncak Baghdad…, hlm. 34-37
[7] Lihat Tamim Anshary, Dari Puncak Baghdad…, hlm. 39-40
[8] Mehdi Nakosten, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat; Deskripsi Analisis abad Keemasan Islam, Surabaya: Risalah Gusti, cet. II, 2003, hlm. 23
[9] Marvin Perry, Peradaban Barat; dari Zaman Kuno sampai zaman Pencerahan, Bantul: Kreasi Wacana, cet. Ke-2, 2014, hlm. 29
[10] Hal ini masih butuh penelusuran lebih lanjut, sebab bagi penulis Romawi dan Persia adalah dua Peradaban yang tidak saling mempengaruhi. …..
[11] Ctesiphon Persia di bangun di tepi kiri sungai Tigri, 25 mil arah tenggara Baghdad. Kota ini telah disebut-sebut oleh Polybus pada tahun 220 SM. Ctesiphon sering dipakai sebagai tempat kediaman pada musim dingin oleh orang-orang Parthian Arsacid setelah mereka menaklukkan wilayah tersebut pada tahun 129 SM, hingga kota itu diberontak dari Parthia pada abad pertama Masehi. Dengan didirikannya dinasti Sassanian pada abad selanjutnya, kota tersebut berkembang menjadi sebuah metropolis dengan beberapa bangunan yang indah. Kota tersebut ditaklukkan oleh orang islam pada tahun 637 M. Ketika Baghdad menjadi ibukota Pemerintahan Abbaasiyah, Ctesiphon musnah, kecuali beberapa tembok yang tetap uuh dan beberapa bangunan kuno. (Lihat catatan kaki di Mehdi Nakoosten, Kontribusi Islam atas Dunia Barat; Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Surabaya: Risalah Gusti, cet. II, 2003, hlm. 23)
[12] Lihat: Marvin Perry, Peradaban …, hlm. 53
[13] Marvin Perry, Peradaban …, hlm. 31-32
[14] Marvin Perry, Peradaban …, hlm. 27
[15] Lihat Tamim Anshary, dari Puncak Baghdad…, hlm. 38
[16] Marvin Perry, Peradaban …, hlm. 32

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here