Sekilas tentang Tadabbur

Perintah untuk bertadabbur:

QS as-Syuro: 52

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٥٢

  1. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahuiapakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus

Qs an-Nisa: 82

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ٨٢

  1. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya

Qs Muhammad: 24

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ ٢٤

  1. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci

Qs. Shad: 29

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

  1. Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran

Tadabbur Qs. Al-Mudatsir: 1-7

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١  قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢  وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣  وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤  وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥  وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦  وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧

  1. Hai orang yang berkemul (berselimut) 2. bangunlah, lalu berilah peringatan 3. dan Tuhanmu agungkanlah 4. dan pakaianmu bersihkanlah 5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah 6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak 7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah

Asbabun Nuzul

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah. Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana. Aku menengadahkan kepala ke langit. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira. Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy. Ketika mereka makan-makan, al Walid berkata kepada teman-temannya: “Nama apa yang pantas kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad) ?” sebagian mereka berkata “Saahir (tukang sihir).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang sihir.” Sebagian mereka berkata :”Kaahin (tukang tenun)” Yang lainnya berkata : “Dia bukan tukang tenun.” Sebagian mereka berkata: “Syaa’ir (tukang syair).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang syair.” Yang lainnya berkata lagi: “Dia mempunyai sihir yang membekas (kepada orang lain).” Semua pembicaraan itu sampai kepada Nabi saw sehingga beliaupun merasa sedih. Beliau mengikat kepalanya serta berselimut. Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan baju dan berdakwah.

Pembagian QS. Al-Mudatsir

Sepintas lalu, perintah yang terkandung dalam Q.S. Al-Muddatstsir merupakan perintah-perintah yang sederhana, namun pada hakikatnya mempunyai tujuan yang jauh, berpengaruh sangat kuat dan nyata. Secara garis besar surat Al-Mudatsir terbagi menjadi 5 penggalan:

  1. Al-Maqto Al-Awal (1-7)
  2. Diawali dengan panggilan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk memikul urusan yang besar
  3. Allah seakan memalingkan nabi Saw dari keadaan berselimut menuju dakwah dan perjuangan
  4. Taujih untuk bersiap-siap
  5. Taujih kepada Rasulullah dalam memikul urusan yang besar

Bekal Rasulullah dalam mengemban risalah, memakai taujih robbani:

1. Yaa Ayyuha al-Muddattsir (Bangkit Dari Pembaringan)

–       Defenisi Muddattsir (Ditsaar: Selimut atau kain yang diletakkan di bahu atau  selendang)

–       ‘Orang yang masih belum giat’, sehingga makna Ditsaar bias berarti ‘selendang kenabian’ yang merupakan pujian untuk Nabi SAW.

2. Qum Fa Andzir (Beri Peringatan)

–         Qum: Bangunlah; Bangkitlah. Fa andzir: Berilah peringatan

–         Seruan untuk bangkit dan bergerak lebih giat untuk berdakwah.

–         Seruan untuk menyampaikan dakwah kepada manusia

–         Belum merupakan perintah dakwah secara terang-terangan. Ayat yang memerintahkannya, tiga tahun setelah kenabian, yaitu QS. Al-Hijr: 94

فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٩٤

  1. Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik

3. Robbaka Fakabbir (Agungkan Tuhan)

–         Dan hanya kepada Allah, kita membesarkan dan mengagungkannya

–         Boleh menganggap besar sesuatu yang lain, namun Allah yang lebih besar

–         Perintah untuk membesarkan allah, bukan perintah Menyebutkan “Allahu Akbar”, yang ada adalah membesarkan dan memujinya.

وَقُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي لَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي ٱلۡمُلۡكِ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ وَلِيّٞ مِّنَ ٱلذُّلِّۖ وَكَبِّرۡهُ تَكۡبِيرَۢا ١١١

  1. Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya

–         Kesempurnaan Pengagungan kepada Allah:

  1. Mengagungkan dengan Keyakinan (hati)
  2. Mengagungkan dengan Lidah
  3. Mengamalkan dengan perbuatan

–         Bagaimana meyakini ‘Allahu Akbar’:

  1. Mengakui bahwa Allah Maha Esa, dalam nama, sifat, dan zatnya. Dan bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah. (Imam al-Ghazali melihat bulan)
  2. Segala sesuatu tunduk kepada Allah (Jabbariyah Vs. Qadariyah)
  3. Segala sesuatu, tidak ada yang terjadi kecuali atas izin Allah (Kisah Nabi dengan Pedangnya)

4. Tsiabaka Fathahhir (Perbaiki Penampilan)

–         Tsiaab: Pakaian. Menurut as-Sa’di adalah perbuatan Rasulullah SAW, dan maksud Fathahhir: membersihkan adalah memurnikannya, tulus melaksanakkannya, dilakukan secara sempurna dan menafikannya dari berbagai hal yang bias membatalkan, merusak dan mengurangi pahalany, seperti syirik, riya’, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain-lain yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah SWT (Lihat: Tafsir as-Sa’di, Jakarta: Darul Haq, 2012, jilid 7, hlm. 348).

–         Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena termasuk dalam kesempurnaan bersihnya amal. Sehingga makna Tsiaab berarti pakaian. Namun, bukan berarti Nabi SAW, pakaiannya kotor, bahkan Nabi adalah orang yang paling bersih dan mencintai kebersihan. (Sunnah dalam kebersihan)

–         Perintah ini juga mencakup untuk memperbaiki penampilan dalam menjalankan dakwah kepada Allah SWT. Sebab penampilan juga berpengaruh dalam dakwah. Seorang dai harus berpakaian sopan, rapi, santun, dan bersih.

–         Tsiaab, juga bisa bermakna ‘pasangan’, sebagaimana QS. Al-Baqarah: 187. Maksudnya adalah perintah untuk membersihkan dan menjaga keluarga dari larangan-larangan Allah. Karena Allah memerintahkan dalam QS at-Tahrim: 6. Sebab orang yang berdakwah harus lebih dahulu mendakwahi keluarganya sebelum orang lain. Karena kondisi keluarga akan menjadi patokan keberhasilan dakwah para dai.

5. Arrujza Fahjur (Dan Perbuatan Keji, Tinggalkanlah)

–         Ar’Rujza: berhala atau patung

–         Ar-Rujza: Seluruh perbuatan buruk baik yang nampak maupun tidak nampak, perkataan maupun perbuatan.

–         Perintah untuk menunggalkan semua bentuk dosa, kecil atau besar, lahir maupun batin, termasuk syirik dan dosa-dosa yang lain.

–         Ayat ini mengandung isyarat untuk mempersiapkan dakwah Nabi SAW dalam mental dan jiwa untuk membersihkan najis-najis dalam pikiran.

–         Seorang dai harus selamat aqidahnya dan bersih pemikirannya dari pemikiran-pemikiran yang meyimpang dari Islam seperti TBC dan SEPILIS (Najis Pikiran).

–         Terkadang ada dai atau seorang muslim yang rajin shalat, puasa dan sedekah namun dalam masalah kepemimpinan membela orang kafir[1](QS an-Nisa: 144)

–         Kesyirikan adalah Najis Pikiran dan Orang Kafir adalah ‘Najas’.

–         Najis adalah zatnya, sementara najas adalah benda yang terkena najis. Sebagaimana dalam al-Qur’an QS at-Taubah: 8.

6. La tamnun tastaqtsir (Jangan Mengharapkan Imbalan)

–        Jangan berharap pada manusia atas nikmat – nikmat dunia dan akhirat, sehingga meminta lebih atas pemberian itu dan melihat ada keutamaan diri atas mereka. Berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahala dari Allah SWT dan sikapilah orang yang diperlakukan dengan baik secara sama.

–       Ayat ini menjadi isyarat tidak bolehnya mengharap dari manusia balasan kebaikan dari kebaikan yang kita lakukan. Sebab itu akan mengurangi keikhlasan, dan seorang dai yang berharap kepada manusia pasti akan kecewa, karena manusia memiliki banyak sifat dan watak. Pada akhirnya, jika keikhlasan telah berkurang, maka seorang dai akan mundur dari jalan dakwah.

–       Ini juga menjadi isyarat “Jangan main hitung-hitungan dengan Allah”. Sebab jika kita main hitung-hitungan, maka Allah hanya akan memberikan kita apa yang bisa kita hitung.

–       Bagaimana Nabi SAW mengharapkan pahala hanya dari Allah ketika berdakwah ke Thaif, ketika dilempari kotoran, sebagaimana QS al-Insan: 9 (Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu, hanyalah mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu).

7. Lirobbika fasbir (Bersabarlah karena Tuhan)

–       Berharap pahala Allah dengan kesabaran dan niatkan hanya untuk Allah

–       Banyak orang yang meninggalkan kemaksiatan bukan karena Allah

–       Sabar (al-Habsu) adalah menahan diri dalam tiga perkara

  1. Ketaatan kepada Allah, (Qs. Al-Baqarah: 153) dan (Qs. Ali Imran: 200)
  2. Hal-hal yang diharamkan,
  3. Takdir Allah yang dirasa pahit (musibah) seperti ujian dan tantangan dakwah.

–       Dalam tahapan Islam, Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahhab menyebutkan dalam Kitab al-Ushul ats-Tsalaatsah bahwa setiap muslim harus mengetahui empat perkara sebagaimana disebutkan dalam Qs al-Ashr: 1-3, yaitu:

  1. Ilmu (Qs al-Mujadilah: 11) (Qs at-taubah: 122)
  2. Amal (Qs al-Fatihah: 7)
  3. Dakwah (Yusuf: 108)
  4. Sabar (Qs Ali Imran: 200)

Demikianlah perintah al-Qur’an untuk mengkaji dan mentadabburi ayat-ayat-Nya sebagaimana perintah bertadabbur. Seseorang yang bertadabbur maka akan menemukan mutiara seperti mutiara yang ada dalam lautan (Wallohu A’lam bi ash-Showab).

  1. Al-Maqto Ats-Tsani (8-10)

Ancaman Allah kepada yang mendustakan hari akhirat

  1. Al-Maqto Ats-Tsalits (11-31)

Berisi tentang 3 hal:

  1. Ciri atau sifat orang yang mendustakan

1)      Allah memberikan kekayaan yang sangat banyak

2)      Putra-putra yang masih hidup yang hadir dengannya

3)      Allah melimpahkan kenikmatan dan kedudukan

4)      Ia ingin agar Allah menambah nikmatnya

5)      Sangat membangkang terhadap ayat-ayat Allah

  1. Penyebab Allah menyatakan perang dengan pendusta

1)      Ia telah berpikir tentang Al-qur’an, sudah menyiapkan penilaian, berpikir sangat serius dan mendalam

2)      Lalu ia mengulangi dan mengulangi apa yang ia pikirkan

3)      Wajahnya menjadi muram dan menghitam

4)      Menyombongkan diri

5)      Menyatakan Al-qur’an adalah sihir

  1. Nasib atau perjalanan akhir sang pendusta (Jalan akhirnya menuju neraka)
  1. Al-Maqto Al-Rabi (32-48)

Pembicaraan tentang neraka saqor;

  1. Masyahid kauniyah (Pemandangan alam semesta)
  2. Maqom ( Kedudukan orang-orang yang berbuat dosa)
  3. Maqom (Kedudukan Ash-haab Al-Yamin) menanyakan kepada para pendosa akan dosa-dosa mereka
  4. Pengakuan orang-orang yang berbuat buruk/dosa

Penyebabnya:

  1. Tidak melaksanakan sholat
  2. Tidak mengindahkan fakir miskin
  3. Suka buang-buang waktu
  4. Mendustakan hari pembalasan
  1. Al-Maqto Al-Khamis (49-56)

Tentang sikap Al-Mukadzibin terhadap dakwah, yaitu:

  1. Tidak takut kepada Akhirat dan
  2. Tidak menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk

Penjelasan tentang Taqdir Allah.

[1]Menurut pemahaman sebagian umat islam yang terkena paham Liberal adalah bahwa seorang Pemabuk, Pencuri, Penjudi, Penjahat atau (maaf) ‘bajingan’ bisa menjadi pemimpin bagi kalangan orang shalih, rajin shalat, puasa dan muslim. Seorang Pezina punya kesempatan yang sama untuk memimpin kalangan masyarakat yang taat beragama dan membenci zina. Dan bisa disahkan legal secara hukum, jika memang ia terpilih dalam konsensus metode pemilihan mereka. Sehingga siapa pun, berhak dan bisa menjadi pemimpin bagi siapa pun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here