Defenisi ilmu sangatlah luas jika ditinjau dalam berbagai perspektif. Bahkan dalam islam sendiri, para ulama menyatakan defenisi ilmu dalam berbagai batasan. Akan tetapi secara ringkas, defenisi ilmu dapat diwakilkan menurut tiga ulama berikut:

Ibnu taimiyah dalam Majma’ Fatawa mendefenisikan ilmu secara istilah berarti pengetahuan yang berdasar pada dalil (bukti). Dalil yang dimaksud bisa berupa penukilan wahyu dengan metode yang benar (al-naql al-mushaddaq), bisa juga berupa penelitian ilmiah (al-bahts al-muhaqqiq). Beliau berkata : Sesungguhnya ilmu itu adalah yang bersandar pada dalil, dan yang bermanfaat darinya adalah apa yang dibawa oleh Rasul. Maka sesuatu yang bisa kita katakan ilmu itu adalah penukilan yang benar dan penelitian yang akurat[1].

Beliau mengait-eratkan antara keyakinan dan ilmu. Seseorang yang yakin berarti menunjukkan bahwa ilmu itu telah bersemayam di dalam dirinya. Dengan kata lain, kalau pemikiran-pemikiran filosofis seperti yang berlaku dalam metafisika tidak mendatangkan keyakinan, itu berarti pemikiran tersebut belum mendatangkan ilmu.

‘Yakin’ melahirkan dua perkara, yaitu pengetahuan hati dan amal hati. Karena terkadang seseorang hamba sudah tahu sebuah ilmu dengan pasti tapi bersamaan dengan itu dalam hatinya masih ada keraguan untuk mengamalkan apa yang dituntut oleh ilmunya itu[2].

Dari defenisi ini sangat jelas hubungan antara yakin, ilmu dan amal. Sehingga menurut Ibn Taimiyah, ilmu adalah apa yang menjadi keyakinan dan terlihat dalam amal perbuatan.

Defenisi lain, seorang pakal Filologi, al-raghib al-Isfahani (w. 443.1060), dalam karyanya Kamus Istilah Qur’an mendefenisikan ilmu sebagai “persepsi suatu hal dalam hakikatnya”. Ini berarti bahwa sekadar menilik sifat (misalnya menilik bentuk, ukuran, berat, isi, warna dan sifat-sifat lain) suatu hal tidak merupakan bagian dari ilmu. Mendasari defenisi ini adalah suatu pandangan filosofis bahwa setiap zat terdiri atas essence dan accidents. essence adalah apa yang membuat sesuatu sebagai dirinya, yang akan tetap satu dan sama sebelum, semasa, setelah perubahan, maka disebut sebagai hakikat. Sehingga ilmu adalah segala hal yang menyangkut hakikat yang tak berubah[3].

Sedangkan menurut ‘Hujjatul Islam’, Imam al-Ghazali mendefenisikan ilmu sebagai pengenalan sessuatu atas dirinya (ma’rifa al-ashay ‘ala ma huwa bihi). Defenisinya di sini, untuk tahu sesuatu, berarti mengenali sesuatu itu sebagai mana adanya. Ada tiga hal yang perlu diuraikan. Pertama, Ilmu adalah pengenalan, sehingga nampak bahwa ilmu adalah masalah perseorangan. Kedua, tidak seperti idrak yang tidak hanya mengyiratkan suatu gerakan nalar atau perubahan dari satu keadaan lain (misalnya dari jahil menjadi berilmu), tetapi juga menyiratkan bahwa ilmu datang sebagaimana adanya ke dalam minda (pikiran) seseorang dari luar. Istilah ma’rifah dalam defenisi Imam al-Ghazali mengiaskan kepada fakta bahwa ilmu selalu merupakan semacam penemuan-diri[4].

Murid Ibnu Taimiyah, Ibn Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin Baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, mendefenisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dihasilkan dengan syawahid (empiris) melalui panca indera dan adillah (dalil syar’i) melalui keyakinan. Beliau berkata : Kami berpendapat bahwa ilmu yang dihasilkan melalui syawahid dan dalil-dalil itulah yang dinamakan ilmu haqiqi (ilmu yang sesungghunya), sedangkan ilmu yang diperoleh tanpa menggunakan syawahid dan dalil maka tidak ada jalan untuk mempercayainya, atau dengan kata lain, bukan ilmu[5].

Dari sini pula jelas bahwa batasan bahwa ilmu bisa diperoleh lewat saluran indera, dan wahyu. Sehingga makna yang diberikan Ibn Qayyim menyangkut fisik dan metafisik.

Adapun ilmu menurut Intelektual Barat diantaranya, Plato, menyebutkan ilmu adalah keyakinan sejati yang dibenarkan. Defenisi ini dapat dipecah menjadi tiga unsur yaitu (1) Keyakinan, (2) Kebenaran, (3) Nalar. Menurut Plato, mengetahui adalah ilmu. Sehingga jika Kita mengetahui bahwa gula itu manis, kita sesungguhnya yakin pada keberadaan yang disebut “gula” dan kita yakin akan rasanya yang manis. Namun, ilmu bukanlah sekadar yakin. Hanya keyakinan-keyakinan yang benar dapat disebut sebagai ilmu. Keyakinan yang salah bukanlah ilmu, menurut Plato. Akan tetapi, bagaimana kita dapat membedakan keyakinan yang benar dari yang salah ?, darisinilah berperan “logos”. Supaya memenuhui syarat sebagai ilmu, keyakinan kita harus didukung oleh nalar. Maksudnya, suatu keyakinan benar jika dan hanya jika secara nalar dibenarkan. Suatu keyakinan yang benar sebab suatu suatu kebetulan tidak memenuhi syarat sebagai ilmu. Sesungguhnya, sebagaimana sering kita jumpai halnya keyakinan yang minim bukti malah salah, meski keyakinan demikian ini mungkin terkadang malah benar[6].

Bertrand Russel membagi ilmu akan sesuatu dan ilmu akan kebenaran, dan kemudian membagi-bagi apa yang ia sebut ilmu akan sesuatu menjadi dua bagian. Ilmu berdasarkan pemberian dan ilmu berdasarkan pengenalan.  Ilmu berdasarkan pengenalan adalah ilmu yang diperoleh secara langsung melalui pengalaman inderawi. Sedangkan ilmu berdasarkan pemberian diperoleh secara tidak langsung. Misalnya kecepatan cahaya, jarak bumi-matahari, panas bintang[7]. Dari sini jelas perbedaan antara kedua worldview tentang ilmu. Di mana islam mengakomodasi objek fisik dan metafisik. Sedangkan Barat hanya membatasi ilmu pada objek yang rasional dan empirik.


[1] Akhmad Alim, Studi Islam; Islamisasi Ilmu Pendidikan, PUSKI-UIKA, Bogor, 2013, hal. 13

[2] Akhmad Alim, Studi Islam, hal. 14

[3] Syamsuddin Arif, Mendefenisikan dan Memetakan Ilmu, dalam Adian Husaini, dkk, Filsafat Ilmu, Jakarta: GIP, 2013, hal 75

[4] Syamsuddin Arif, Mendefenisikan dan Memetakan Ilmu, hal 75-76

[5] Akhmad Alim, Studi Islam, hal. 14-15

[6] Syamsuddin Arif, Mendefenisikan dan Memetakan Ilmu, hal 73-74

[7] Syamsuddin Arif, Mendefenisikan dan Memetakan Ilmu, hal. 74-75

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here