Secara umum, khabar dalam arti ‘berita, informasi, cerita, riwayat, pernyataan, ucapan’ dan sebagainya dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Pertama, berdasarkan nilai kebenarannya, yaitu khabar sadiq, dan khabar kadhib. Berdasarkan pembagian ini, khabar dipilah menjadi tiga jenis: (1) al-maqtu di-iqdihi (yang sudah pasti benar), yaitu khabar  mutawatir dan pengetahuan ‘a priori’ (awwaliyat), maupun diyakini dan dinyatakan bena (isi serta sumbernya) setelah diteliti, diuji dan dibuktikan secara ilmiah. (2) al-Maqtu di Kidhbihi (yang sudah pasti salah/dusta/keliru), baik yang diketahui salahnya salahnya secara langsung, maupun secara pembuktian. (3) ma la yuqta’ bi sidqihi wa kidhbihi (yang tidak dapat dipastikan benar atau salahnya), yaitu khabar  dan sumber yang tidak diketahui sama sekali asal-usulnya atau tidak jelas sumbernya, termasuk di sini, khabar yang mengandung kemungkinan benar, namun belum pasti benar maupun mengandung kemungkinan dusta/palsu/salah[1].

Berita yang benar (khabar shadiq) terbagi menjadi dua jenis. Berita yang dibawa oleh orang banyak yang memustahilkan terjadinya kebohongan (khabar mutawatir) dan berita yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Otoritas pada jenis yang pertama—yang memasukkan kesepakatan ulama, ilmuwan, dan orang-orang terpelajar—dapat dipertanyakan dengan metode-metode rasional dan eksperimen. Namun, otoritas jenis kedua adalah mutlak. Hal ini karena, sebagaimana terdapat tingkatan pada rasio dan pengalaman, dalam otoritas pun terdapat tingkatan. Dalam keyakinan muslim, otoritas tertinggi adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi saw, yang mencakup pribadinya. Dalam pengertian bahwa ototritas kedua bukan hanya menjelaskan kebenaran, tapi keduanya adalah kebenaran itu sendiri yang merupakan representasi otoritas berdasar tingkatan tertinggi intelektualitas, pencerapan spiritual dan pengalaman transendental, sehingga keduanya tidak bisa direduksi pada tingkatan rasio dan pengalaman normal manusia[2].

Adapun Imam an-Nashafi menjelaskan bahwa yang termasuk khabar shadiq ada dua. Khabar mutawatir, yaitu informasi yang tidak diragukan lagi karena berasal dan banyak sumber yang tidak mungkin bersekongkol untuk berdusta, dan oleh karena itu merupakan sumber ilmu yang pasti kebenarannya. Kedua, informasi yang dibawa dan disampaikan oleh para rasul yang diperkuat dengan mukjizat. Informasi melalui jalur ini bersifat istidlali dalam arti baru bisa diterima dan diyakini kebenarannya jika telah diteliti dan dibuktikan terlebih dahulu statusnya[3].

Akan tetapi, tidak semua khabar bisa dianggap sebagai mutawatir. Khabar yang diangkat sampai pada derajat mutawatir djelaskan oleh para ulama harus melalui beberapa syarat. Pertama, para narasumbernya harus betul-betul mengetahui apa yang mereka katakan, sampaikan atau laporkan. Jadi, tidak boleh dan tidak cukup jika sekedar menduga-duga atau mereka-reka, apa lagi meraba-raba. Kedua, mereka harus mengetahuinya secara pasti dalam arti pernah melihat, menyaksikan, mengalami, atau mendengarnya secara langsung tanpa disertai ilusi, distorsi, dan semacamnya. Ketiga, jumlah narasumbernya harus cukup banyak sehingga tidak mungkin kekeliruan atau kesalahan akan dibiarkan tanpa koreksi[4].


[1] Syamsuddin Arif, dalam Adian Husaini, Filsafat Ilmu, Prinsip-prinsip Dasar Epistemologi Islam, Jakarta: GIP, 2013, hal. 117

[2]Diakses dari Tentang Sumber-Sumber Pengetahuan: Antara Barat dan Islam  pada tanggal 16 Oktober 2014, pukul 21.36 WIB

[3] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: GIP, th. 2008, hal. 208

[4] Syamsuddin Arif, dalam Adian Husaini Prinsip-prinsip, hal. 118

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here