Membincang istilah “Pemikiran Islam” maka kita tidak bisa lepas dari dua istilah utama yaitu “Pemikiran” dan “Islam”.

Pada kata “Pemikiran”, setidaknya kita meyentuh tiga istilah utama yaitu, “Pikiran”, “Pemikir” dan “Pemikiran”. Ketiga istilah ini disebutkan dalam KBBI,

pikiran/pi·kir·an/ n 1 hasil berpikir (memikirkan): ia pandai menangkap ~ dan perasaan orang lain; 2 akal; ingatan; 3 akal (dalam arti daya upaya): mendapat ~; 4 angan-angan; gagasan: ~ baru; 5 niat; maksud: tidak ada ~ akan berhenti bersekolah;~ beramuk menjadi bingung; ~ bercabang bimbang; ragu; ~ buntu tidak dapat berpikir lebih lanjut; tidak dapat menemukan jalan pemecahan masalah; ~ gila pendapat yang tidak mungkin dilaksanakan; ~ pendek picik; ~ tumpul bodoh;

pemikir/pe·mi·kir/ n orang cerdik pandai yang hasil pemikirannya dapat dimanfaatkan orang lain; filsuf;

pemikiran/pe·mi·kir·an/ n proses, cara, perbuatan memikir: problem yang memerlukan ~ dan pemecahan;[1]

Jadi Defenisi Pemikiran lebih diarahkan pada “proses berpikir” yang menekankan pada daya akal yang merupakan salah satu potensi manusia yang merupakan anugerah dari Allah SWT.

Terminologi yang kedua adalah “Islam”. Jika kita perhatikan dalam kamus, arti kata islam tidak keluar dari makna inqiyad (tunduk) dan istislam (pasrah). (al-Mu’jam al-Wasith, 1/446). Diantara penggunaan makna bahasa ini, Allah sebutkan dalam al-Quran ketika menceritakan penyembelihan Ismail yang dilakukan Nabi Ibrahim,

فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ١٠٣  وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ١٠٤

Ketika keduanya telah pasrah dan dia meletakkan pelipisnya. Kami panggil dia, ‘Hai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi wahyu itu…(QS. as-Shaffat: 103-104)

Makna islam secara istilah tidak jauh dari makna bahasanya. Imam Muhamad bin Sulaiman at-Tamimi mengatakan,

الإسلام هو الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة ، والبراءة من الشرك وأَهله

Islam adalah pasrah kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari semua kesyirikan dan pelakunya. (Tsalatsah al-Ushul, 1/189)

Selain itu sangat jelas makna “Islam” itu sendiri, secara istilahy, yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbagai sabda beliau. Imam al-Nawawi dalam Kitab hadits-nya yang terkenal, al-Arba’in al-Nawawiyah, menyebutkan definisi Islam pada hadits kedua: “Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah – jika engkau berkemampuan melaksanakannya.” (HR Muslim).

Pada hadits ketiga juga disebutkan, bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda: “Islam ditegakkan di atas lima hal: persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, penegakan shalat, penunaian zakat, pelaksanaan haji ke Baitullah, dan shaum Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari sini jelas. Bahwa dari konsep itu lahir berbagai macam pandangan yang mengarah kepada status hukum. Dari rukun islam kita bisa menurunkan istilah “Muslim” dan “Kafir”, dan dari rukun Iman kita bisa menurunkan istilah “Mu’min” dan “Munafiq”. Selain itu, terminologi Islam juga dipakai untuk menjelaskan posisi dua agama sebelum islam, yaitu Yahudi dan Nasrani.

Dalam surat al-Fatihah kita diajarkan agar senantiasa berdoa berada di jalan yang lurus (al-shirat al-mustaqim) dan bukan berada di jalan orang-orang yang dimurkai (al-maghdhub) dan jalan orang-orang yang tersesat (al-dhaallin). Dalam kitab Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Mukhaalafata Ashhabil Jahiim, Ibn Taymiyah menulis satu sub-bab berjudul: “Al Maghdhub ‘alahim: al-yahuud, wa adhdhaalluna: an-Nashara” (Kaum yang dimurkai Allah adalah Yahudi, yang Tersesat adalah Nashrani). Dalam Kitabnya itu, Ibn Taymiyah mengutip sabda Nabi saw yang menyatakan:

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah yang dimurkai, sedangkan kaum Nasrani adalah kaum yang tersesat.” (HR Tirmidzi).

Selama beratus tahun, kaum Muslim sangat mafhum, bahwa kaum di luar Islam, adalah kaum kafir. Untuk mereka ada berbagai status, seperti dhimmi, harbi, musta‟man, atau mu‟ahad. Al-Quran pun menggunakan sebutan “kafir ahl al-Kitab” dan “kafir musyrik”. Status mereka memang kafir, tetapi dalam konsep Islam, mereka tidak boleh dipaksa memeluk Islam; mereka tidak boleh disakiti atau dibunuh karena kekafirannya – sebagaimana dilakukan kaum Kristen Eropa terhadap kaum heretics.

Jadi, bangunan dan sistem Islam itu begitu jelas, bukan hanya dalam konsepsi teologis, tetapi juga konsepsi sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, peradaban, dan sebagainya. Misalnya, dalam hukum bidang perkawinan, sudah jelas, bahwa laki-laki kafir (non-Muslim) haram hukumnya dinikahkan dengan wanita muslimah. (QS 60:10).[2]

Jika kita menelusuri lebih dalam makna Islam, maka kita akan sampai pada dua terminologi utama.

Pertama, islam dalam arti umum. Yang dimaksud islam dalam arti umum adalah semua ajaran para nabi, yang intinya mentauhidkan Allah dan mengikuti aturan syariat yang berlaku ketika itu.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

الإسلام بالمعنى العام: هو التعبد لله بما شرع منذ أن أرسل الله الرسل إلى أن تقوم الساعة

Islam dalam arti umum adalah menyembah Allah sesuai dengan syariat yang Dia turunkan, sejak Allah mengutus para rasul, hingga kiamat. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20)

Berdasarkan pengertian ini, berarti agama seluruh Nabi dan Rasul beserta pengikutnya adalah islam. Meskipun rincian aturan syariat antara satu dengan lainnya berbeda. Diantara dalil mengenai islam dalam makna umum, dalam al-Quran, Allah menyebut Ibrahim dan anak keturunannya, orang-orang islam.

وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَٰبَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٣٢

Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. al-Baqarah: 132).

Allah juga mengingkari klaim sebagian orang bahwa Ibrahim penganut yahudi dan nasrani,

أَمۡ تَقُولُونَ إِنَّ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطَ كَانُواْ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ قُلۡ ءَأَنتُمۡ أَعۡلَمُ أَمِ ٱللَّهُۗ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَٰدَةً عِندَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ١٤٠

Kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” (QS. al-Baqarah: 140).

Terminologi yang kedua, islam dalam arti khusus. Islam dalam arti khusus adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Syariat beliau menghapus syariat sebelumnya yang bertentangan dengannya . Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan,

والإسلام بالمعنى الخاص بعد بعثة النبي صلى الله عليه وسلم يختص بما بعث به محمد صلى الله عليه         وسلم لأن ما بعث به النبي صلى الله عليه وسلم نسخ جميع الأديان السابقة فصار من أتبعه مسلماً ومن خالفه ليس بمسلم

Islam dengan makna khusus adalah islam setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khusus dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus semua agama sebelumnya. Sehingga pengikutnya adalah orang islam, sementara yang menyimpang dari ajaran beliau, bukan orang islam. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20)

Pengikut para nabi terdahulu, mereka muslim ketika syariat nabi mereka masih berlaku. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, syariat mereka tidak berlaku, sehingga mereka bisa disebut muslim jika mengikuti syariat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai permisalan, ketika ada orang nasrani yang mengikuti ajaran Isa lahir batin. Dia komitmen dengan ajaran paling otentik yang disampaikan Isa, kecuali satu masalah, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, dia tidak mau mengikuti beliau, maka orang ini bukan muslim. Andai orang ini hidup di zaman Isa, dia bisa jadi seorang muslim.[3]

Lalu, apa defenisi Pemikiran Islam?. Secara bahasa dari dua defenisi di atas kita bisa mengartikan Pemikiran Islam sebagai proses berpikir menurut konsep-konsep islam. Akan tetapi secara istilah, Pemikiran Islam sudah menjadi sebuah cabang ilmu dalam studi islam. Sebagaimana jamak diketahui bahwa Studi Islam memiliki banyak bidang kajian seperti Filsafat Islam, Pemikiran Politik Islam, Tasawwuf, Perbandingan Agama, Sejarah Peradaban Islam dan lain-lain. Sehingga Pemikiran Islam secara istilah adalah kajian tentang produk dan corak berpikir para ulama dan intelektual tentang konsep-konsep islam.

Oleh karena itu, dalam Pemikiran Islam, kita akan ‘mengembara’ pada semua ranah kajian islam. Meskipun secara teknis pemikiran islam dibedakan dengan kajian pada masalah Tauhid, Fiqh, Hadits, Sirah dan lain-lain.

Mendalami Pemikiran Islam berarti membuat kita mampu mengenal peta diaspora pemikiran umat Islam tentang tuhan, agama – itu sendiri –, alam dan segenap kompleksitasnya. Sehingga, mengkaji pemikiran Islam bukan hanya bergerak dalam ranah binner halal dan haram atau muslim atau kafir, tetapi lebih dari itu, Islam sebagai ajaran yang universal mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik di dunia maupun akhirat. Dalam sejarahnya, pemikiran dalam dunia Islam sangatlah kompleks dan kosmopolit. Sebab berbagai cabang ilmu keislaman telah sedemikian berkembang selama berabad-abad yang kemudian termanifestasikan dalam kalam, fikih, filsafat, sejarah, sastra, bahasa, arsitektur, geografi, biologi, astronomi, kedokteran dan lain-lain.[4]

Setidaknya, kita bisa membagi Corak Kajian Pemikiran Islam ke dalam empat tema utama yaitu:

  1. Kalam (Tuhan, manusia, Wahyu, Akal, dunia, Akhirat)
  2. Falsafah (Sejarah Filsafat, ontologis, epistemologis, aksiologis)
  3. Fiqh (ibadah, mu’amalah, siyasah)
  4. Tashawwuf (Relasi tuhan-manusia)

[1] https://kbbi.web.id/pikir

[2] Adian Husaini, Konsep Islam Sebagai Agama Wahyu, Modul Islamic Worldview, hlm 1-2

[3] https://konsultasisyariah.com/24235-apa-itu-islam.html

[4] http://nasirsalo.blogspot.co.id/2017/10/pengantar-studi-pemikiran-islam_17.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here